Book A Visit

HIPERTENSI, Perlahan Tapi Membunuh. Apa penyebabnya?

dr. Jessica Philbertha
Medifit Active Rehabilitation Center

Pengertian Hipertensi

Hipertensi merupakan masalah kesehatan utama karena prevalensinya yang tinggi di seluruh dunia. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan peningkatan prevalensi hipertensi di Indonesia denganjumlah penduduk sekitar 260 juta adalah 34,1% dibandingkan 27,8% pada Riskesdas tahun 2013. Hipertensi merupakan suatu ‘silent killer’ karena jarang menyebabkan gejala di awal penyakit. Beberapa diantaranya hanya menyebabkan keluhan sakit kepala, vertigo, dan penglihatan yang kabur. Namun, sekitar 7,5 juta kematian atau 12,8% dari total semua kematian tahunan di seluruh dunia terjadi karenanya.

Latar Belakang

Peningkatan angka kesakitan dan kematian akibat hipertensi juga disebabkan karena hipertensi merupakan faktor risiko terhadap kerusakan organ penting seperti otak, jantung, ginjal, retina, pembuluh darah besar (aorta) dan pembuluh darah perifer. Hal ini berhubungan dengan peningkatan angka kejadian penyakit jantung kronis, stroke, dan penyakit jantung koroner. Selain itu, hipertensi juga telah terbukti menyebabkan gangguan kognitif dan demensia.Lebih lanjut, diyakini bahwa gangguan kognitif ini mempengaruhi kemampuan mental untuk mempertahankan produktivitas di tempat kerja, yang pada akhirnya menyebabkan masalah sosial dan ekonomi.

Menurut konsensus penatalaksanaan hipertensi terbaru tahun 2019 oleh “Indonesian Society of Hypertension”, diagnosis hipertensi ditegakkan bila tekanan darah sistolik (TDS) ≥ 140 mmHg dan/atau tekanan darah diastolik (TDD) ≥ 90 mmHg pada pengukuran di klinik atau fasilitas layanan kesehatan. Bagi individu dengan tekanan darah 130-139/80-89 mmHg direkomendasikan untuk intervensi perubahan gaya hidup dan penambahan terapi obat jika terbukti adanya penyakit kardiovaskular terutama penyakit jantung koroner. Target tekanan darah pada pengobatan hipertensi beraneka ragam, tergantung pada usia dan faktor penyakit lainnya seperti diabetes, penyakit ginjal kronik, penyakit jantung koroner, stroke, dan transient ischemic attack (TIA).

Pola hidup sehat telah terbukti menurunkan tekanan darah,seperti pembatasan konsumsi gar am dan alkohol, peningkatan konsumsi sayuran dan buah, penurunan berat badan dan menjaga berat badan ideal, aktivitas fisik teratur, serta menghindari rokok. Tujuan pengendalian berat badan adalah menargetkan berat badan ideal (IMT 18,5 – 22,9 kg/m2) dengan lingkar pinggang < 90 cm (laki-laki) dan < 80 cm (perempuan). Olahraga aerobik teratur bermanfaat untuk pencegahan dan pengobatan hipertensi, sekaligus menurunkan risiko dan mortalitas kardiovaskular. Penderita hipertensi disarankan untuk berolahraga setidaknya 30 menit latihan aerobik dinamik berintensitas sedang (seperti berjalan, jogging, bersepeda, atau berenang) 5-7 hari per minggu. Studi menunjukkan bahwa aktivitas fisik ringan selama 3 menit setiap 30 menit (10% waktu) dapat menurunkan tekanan darah secara signifikan. Studi konfirmasi tambahan menunjukkan manfaat aktivitas fisik terhadap pencegahan penyakit diabetes melitus dan meningkatkan metabolisme lipid guna pencegahan terjadinya sindrom metabolik. Namun, hendaknya aktivitas fisik yang dilakukan sesuai dengan anjuran dokter untuk mencegah terjadinya cedera dan penyakit lainnya.

Referensi :

Kosasih A, Lukito AA, Soenarta AA, Tiksnadi A, Kuncoro BRMAS, Anantaria C, et al. Konsensus penatalaksanaan hipertensi. Lukito AA, Harmeiwaty E, Hustrini NM. Jakarta: Indonesian Society of Hypertension; 2019. p 1-39.

Rego MLM,Cabral DAR, Costa EC, Fontes EB. Physical exercise for individuals with hypertension. Clinical medicine insight. 2015; 13: 1-10.

Egan BM. Physical activity and hypertension. AHA journals. 2017; 404-6.

Lopes S,Bastos JM, Alves AJ, Ribeiro F. Exercise as a tool for hypertension and resistant hypertension management. Integrated blood pressure control. 2018; 11:65-71.

No Comments

Leave a Reply

× How can I help you?